Logo

MTSS NURUL ISLAM

Madrasah Unggul, Berkarakter, dan Berprestasi

Artikel Guru

Bukan Tentang Jatuh, Tapi Tentang Bagaimana Kita Bangkit

03 August 2026 Rama Syahri Ramdani Subakir, ST
Bukan Tentang Jatuh, Tapi Tentang Bagaimana Kita Bangkit

APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?

“ASEP WARNA SUTISNA”

 

Banyak sementara orang mengalami kejatuhan, keterpurukan, kesedihan, penderitaan, bahkan kesalahan dan kealfaan menyelimuti relung hidupnya. Itu merupakan bagian dari hidup manusia. Kita terkadang bahagia, terkadang pula bersedih. Hari ini kita masih berkumpul dengan sahabat, teman, bahkan pacar sekalipun, entah besok atau lusa air mata kita harus bercucuran dan mengembang tatkala mereka menjauh dari sisi kita.

Kebahagiaan yang bersifat sementara dapat membutakan mata kita. Cinta semu menghayutkan qolbu kita. Pikiran kita terbuai oleh angan-angan yang berkilauan bagai kilau intan dan permata di dasar lautan yang bening.

Semuanya dapat diraih dengan mudah. Jalannya bertabur bunga di kanan-kiri. Diteduhi dengan payung keistanaan. Dihiasi dengan kerlip lampu emas. Kaki melangkah terasa ringan, mata memandang terasa sejuk, mulut terucap terasa lantunan syair.

Manusia berbondong-bondong mencarinya. Berebutan mendapatkannya. Kawan menjadi lawan. Hukum diabaikan. Kekerasan dilalui, pengkhianatan tak jarang dijadikan jalan pintas, bahkan Thogut dianggap sebagai sahabat sejatinya.

Kebahagiaan sebenarnya, cinta sejati dan hakiki memang tak mudah untuk diraih. Jalannya dipenuhi onak duri, berbelok-belok, naik turun, halangan dan rintangan bertebaran di mana-mana. Mata terasa buta melihatnya, qolbu terasa beku menghayatinya, mulut terkunci rapat. Manusia berlarian menjauhinya.

Namun yang harus kita perhatikan dan pahami dengan saksama, bukan masalah apakah kita pernah jatuh atau tidak, pernah berbuat kesalahan atau tidak, pernah berbuat kenistaan atau tidak, dan berbuat hal-hal yang bertentangan dengan hukum masyarakat-agama atau tidak. Tapi pangkal permasalahannya setelah itu apa yang harus kita lakukan?

Jadikanlah masa lalu kita sebagai cerminan untuk hidup di masa sekarang dan mendatang. Jadikanlah masa lalu kita sebagai motivasi dalam menjalani hidup ini. Tekadkan dalam diri kita untuk menjadi manusia yang sehat lahir-bathin, punya pandangan ke depan serta selalu mencari celah-celah kesempatan untuk bangkit membangun citra diri yang semakin mandiri dan islami. Iringi dengan ilmu sebagai rel kehidupan. Hiasi dengan iman sebagai penerang setiap langkah kita. Taburkan dengan akhlak mulia sebagai bunga penyejuk manusia. Kendalikanlah dunia dengan berbagai atribut globalisasi dan modernisasi. Berdoalah setiap waktu supaya kita istiqomah dengan tekad dan niat kita. Jangan sampai kita menjadi bulan-bulanan dunia, terjebak oleh patamorgana kehidupan. (q)

 

Bagikan artikel ini:

Diskusi Artikel

Komentar Pembaca

Komentar akan tampil setelah disetujui admin madrasah.

0 Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah pembaca pertama yang memberi tanggapan.

Tulis Komentar

Gunakan bahasa yang baik dan relevan dengan artikel.